Puisi : Jembatan

JEMBATAN

Sutardji Calzoum Bachri

Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung

air mata bangsa. Kata-kata telah lama terperang-

kap dalam basa-basi dalam teduh pekewuh dalam

Isyarat dan kilah tanpa makna.

Maka aku pun pergi menatap pada wajah

orang berjuta.

Wajah orang tergusur

Wajah yang ditilang malang

Wajah legam para pemulung yang memungut

remah-remah pembangunan

Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar

penonton etalase indah di berbagai plaza.

Wajah yang diam-diam menjerit melengking

melolong dan mengucap :

tanah air kita satu

bangsa kita satu

bahasa kita satu

bendera kita satu

Tapi wahai saudara satu bendera, kenapa

kini ada sesuatu yang terasa jauh-beda diantara kita ?

Sementara jalan-jalan mekar di mana-mana

menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan

timbuh kokoh merentangi semua sungai dan  lembah yang

ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani

jurang di antara kita ?

Di lembah – lembah kusam pada pucuk tulang kersang

dan otot linu mengerang mereka pacangkan koyak-

moyak bendera hati dipijak ketidakpedulian pada saudara.

Gerimis tak mampu mengucap kibaran-

nya. Lalu tanpa tangis mereka menyanyi :

padamu negeri

airmata kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s