Puisi : SETASIUN TUGU

SETASIUN TUGU
Taufiq Ismail (sastra IV (2), 1968)

Tahun empat puluh tujuh, suatu malam di bulan Mei
Ketika kota menderai dalam gerimis yang renyai
Di tiang barat lentera merah mengerjap dalam basah
Menunggu perlahan naiknya tanda penghabisan



Kleneng andong terputus di jalan berlinangan
Suram ruang setasiun, beranda dan tempat menunggu
Truk menderu dan laskar berlagu – lagu perjuangan
Di tugu seorang ibu menunggu, dua anak dipangku



Berhentilah waktu di setasiun Tugu, malam ini
Di suatu malam yang renyai, tahun empat puluh tujuh
Para penjemput kereta Jakarta yang penghabisan
Hujan pun aneh di bulan Meti, tak kunjung teduh


Di tiang barat lentera mengerjap dalam basah,
Anak perempuan itu dua tahun, melekap dalam pangkuan
Malam makin lembab, kuning gemetar lampu setasiun
Kakaknya masih mencoba nyanyi Satu Tujuh Delapan Tahun


Udara telah larut ketika tanda naik pelan-pelan
Seluruh penjemput sama tegak, memandang ke arah barat
Ibu muda menjagakan anaknya yang kantuk dalam lena
Berkata lambaikan tanganmu dan panggillah Barak


Wahai ibu muda, sepanjang hari atap – atap kota untukmu bervaza
Karena kezaliman militer pagi tadi terjadi di Kelender
Kini seluruh republik menundukkan kepala, nestapa dan resah
Dan uap ungu berdesir menyeret gerbong jenazah yang terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s