Seratus Satu Hal Tentang Guruku Sayang

essay yg ak post ini..buatan adekq :

Guruku tersayang, karya ini merupakan surat dariku untukmu yang selama ini selalu setia menemani dalam tiap langkah karier pendidikanku hingga saat ini.

Berbicara tentang guru, aku tidak akan memilah – milah guruku saat masih di Playgroup, TK, SD, SMP ataupun SMA. Aku akan berbicara tentang  “guru”. Sosok yang selama ini tidak pernah lepas dalam 16 tahun jurnalku yang bersambung, bahkan saat ini. Guru, bagiku adalah seseorang yang begitu abstrak. Beliau semua pada dasarnya toh seorang individu yang kurang lebih sama dengan kami, para siswa. Akan kuceritakan di sini, seratus satu hal tentang beliau semua yang begitu aku hormati, aku hargai, dan aku yakin akan kuingat hingga nanti aku tak mampu mengangkat pena lagi.

Pertama, guru itu ceroboh : terbukti dengan begitu banyaknya spidol yang hilang karena terbawa oleh guru-guruku sekalian. Aku sendiri hanya bisa tersenyum jika mengingat seringnya spidol, buku, atau barang apapun yang ada di kelas tidak sengaja terbawa oleh guru-guru yang baru saja mengajar di kelas kami. Oh, bahkan kadang yang terjadi adalah kebalikannya, spidol kami bertambah, atau ada saja yang tertinggal di ruang kelas kami. Guru, begitu banyakkah yang kau pikirkan tentang kami hingga semua hal kecil yang kau lakukan kadang berada diluar kesadaranmu ? Entah apa alasannya, tapi aku yakin alasannya manusiawi, logis, dan tidak mungkin tidak ada alasannya.

Dua, guru itu ramah : selalu tersenyum, di tiap kali kesempatan. Selalu membalas sapa, melambaikan tangan, atau kadang hanya membalas senyuman. Beliau semua selalu tersenyum apapun yang terjadi, bahkan ketika memberikan hasil tes yang ternyata harus remidi. Senyum jahil, senyum mengancam, ataupun senyum hangat yang biasa. Guru selalu tersenyum, ramah, apa adanya.

Tiga, guru itu tiada mengenal lelah. Menyalurkan ilmu, berbicara di depan kelas bahkan ketika kami semua terlena dalam mimpi di atas diktat yang seharusnya kami baca. Tiada mengenal lelah, tidak pernah bosan memberi kami nasihat, arahan, candaan, atau bahkan mungkin amukan. Tak kenal lelah bimbing kami memperbaiki kesalahan.

Empat, Guru itu sabar. Sabar menunggu kami bilamana kami terlambat mengumpulkan tugas ataupun terlambat masuk kelas, walaupun kadang ada kalanya bukan hanya guru yang menanti, tapi juga sanksi. Guru, tetaplah sabar karena sabarmu merupakan anugerah bagi kami para siswa.

Guru itu rela berkorban, rela pergi berhujan-hujanan membeli makan siang untuk kami yang harus belajar untuk lomba keesokan harinya, walaupun pada akhirnya kami tidak berhasil juara. Rela berkorban, waktu, pikiran maupun perasaan, hanya untuk kami para siswa yang kadang malas menyediakan waktu untuk mengulang pelajaran yang guru berikan.

Guru itu kreatif, selalu punya cara tersendiri tiap pengajarannya. Dengan kata-kata, nada, presentasi,  kerja lapangan, ataupun Pekerjaan Rumah yang selalu berbeda dan bertambah tiap harinya.  Beliau selalu kreatif, mencari cara paling tepat untuk memberi investasi kepada kami. Guru itu perhatian, beliau selalu memperhatikan kasak – kusuk di belakang bilamana lembar evaluasi di atas meja masih putih bersih belum tergores pena. Guru itu jeli, tahu tiap lirikan mata siswa-siswa jahil yang berusaha mendapat jawaban. Jeli, selalu dapat melihat potensi siswa didiknya, yang berpuluh bahkan beratus-ratus jumlahnya. Guru itu dewasa, selalu memiliki jalan keluar yang kadang tak terpikirkan oleh kami para siswa. Guru itu pengertian, walau kadang tegas memberi hukuman. Guru itu aktor yang layak mendapatkan penghargaan oscar, selalu dapat berakting dengan baik dan benar sesuai lakonnya : guru. Guru itu pemirsa yang begitu baik, mau mendengarkan keluhan ataupun pertanyaan anak didiknya dan tentu tak pernah bosan memberi masukan maupun jawaban. Guru itu, pengawal yang selalu menjaga siswanya, baik di dalam maupun di luar sekolah. Guru itu kadang malas, karena kadang kami sepakat untuk pulang lebih awal karena terik panas matahari dan perut yang melilit sudah sepakat untuk pulang lebih cepat. Pada intinya : guru itu manusiawi, dengan puluhan sifat lainnya yang kurang lebih sama dengan kita semua, bisa kita tiru apa adanya. Tapi diantara puluhan sifat itu, satu yang terakhir, hanya satu dari seratus satu sifat guru yang takkan pernah berubah dan takkan mungkin kita samakan : Guru itu “Guru”.

Guru, takkan pernah berhenti menjadi guru bagi kami para siswa. Karena guru, akan tetap menjadi guru, bahkan hingga nanti ketika kami sudah menjadi apa yang kami impikan. Guru, tetaplah menjadi seseorang yang begitu kami hormati, kami junjung tinggi, dan selalu teringat di dalam hati. Sosok yang selama ini membimbing, mengajar dengan sabar, memberi investasi tak ternilai yang akan selalu berkembang, selalu bertambah dan bermanfaat bagi kami para siswa. Investasi yang tidak akan pernah mati dan tidak akan pernah merugi : ilmu. Guru, apapun jadinya kami nanti, kau tetaplah menjadi guru. Mengajar ataupun tidak mengajar, kami para siswa akan tetap memanggilmu guru, tetap menyapamu dengan rasa hormat kepada seorang guru, tetap memohon masukanmu sebagai seorang siswa yang buta terhadap arah. Satu demi satu, semua saham yang guru tanam akan terus kami jaga, terus kami kembangkan, dan kami investasikan.

Ketika hasil tes evaluasi menunjukkan aku masih belum memenuhi standar pemahaman, selalu hanya satu yang terpikir olehku : teganya aku. Aku tahu, di balik semua senyum guru yang begitu hangat dalam tiap kata yang terucap dan disampaikan pada kami para siswa, guru sedang berusaha menyalurkan ilmu kepada kami. Tes evaluasi yang menjadi tolok ukur itu semua. Siang dan malam, aku yakin guru selalu menyediakan waktu tersendiri untuk menyiapkan materi, untuk mengoreksi hasil evaluasi, menyusun soal-soal yang akan diberikan esok hari. Tentu saja, dengan adanya remidi maka gurupun harus kembali menyusun soal, menata jawaban,  sekali lagi.

Sementara kami, siswa siswi kadang kala tersandung kaki sendiri dalam masa belia ini. Terlalu dewasa untuk tidak bertanggung jawab, terlalu belia untuk konsekuen terhadap apa yang kami lakukan, terhadap usaha pencapaian tujuan kami di masa depan nanti. Maka guru, maafkan kami yang kadang kala hanyut dalam kesenangan dan lupa diri akan kewajiban kami sebagai pelajar. Maafkan kami, yang kadang kala menjadikan pelajaran sebagai bahan candaan. Menjadikan ilmu, yang merupakan investasimu terhadap kami : sebagai bahan lelucon kering yang ramai dan perlahan berubah menjadi sindiran. Dengan seratus satu sifatmu yang begitu manusiawi, kau terus sabar membimbing kami. Guru, ketahuilah bahwa kami, dibalik semua lelucon kering, kenakalan, keisengan dan ketidakpatuhan, diam-diam menyerap ilmu dari pribadimu. Setidaknya satu/dua dari seratus sifatmu yang bisa kami tiru. Kau teladan bagi kami, kau sahabat bagi kami, kau aturan bagi kami, tapi di atas segalanya : kau adalah guru bagi kami. Guru, takkan pernah mati dalam sanubari. Selalu hidup, teringat, dan terbayang. Karena guru, kami belajar darimu bahwa ilmu adalah investasi masa depan yang tak ternilai, dan ketahuilah bahwa separuh lebih saham dari investasi ini adalah hasil bunga investasimu terdahulu. Guru, do’akan kami, karena kami juga mendo’akanmu. Guru, terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s