N.U.R.A.N.I

anjing anjing menggonggong liar
di atas tanah kering terlantar yg memerah,
merekah.
Kuarkan aroma tanah mati,
tanah lempung, yang takkan mungkin terobati.
Huma – huma berdiri ringkih di atas tanah pesakitan ini.
cagak2ny suda renta tak mampu lagi menopang beban
yg separuh ternaungi atap rimba berbalut rotan dan duri
semut – semut terseok mencari gula di padang garam
peluh, keringat, keluh, kesah, tangis dan ratap.
Mengering senyum
Dalam hujan yg mencabik di tengah malam.
Layangkan pancang dan atap, seolah bermain layang-layang

Meringkuk di sudut rumah tak beratap dan tak berpancang
Memeluk erat kaki-kaki kecil yg berkarat
Mereka terpasung di sudut ruang
Tidak sehat
Tidak bahagia
Tidak tersorot oleh kilat yg menyilaukan mata
Bungkam dalam lamunan
Sunyi teredam halilintar
Terombang ambing angin ganas warta
Tertutup oleh timbunan dusta dan perkara
Tercemooh oleh fitnah dan tipu daya
Terkatung-katung
Terseok-seok
Bungkam
Diam
Sunyi
Sepi
Ialah ;
Nurani kini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s