Merelakan dan Mengikhlaskan

 

Aku ga mau bilang, aku nyesel masuk fakultas ini. Karena emang aku gak nyesel, yang ada juga bahagia banget. Karena emang udah cita-cita aku dari dulu. No pain no gain. That’s what this situation would be like.

Dulu sempet ngobrol sama temen :

“ga gabung mapala bro?”

“nggak, ga mau aku.”

“ga mau apa ga bisa ?”

“hahahaa.. ga bisa.”

Don’t ask us, kenapa kita bilang g bisa, padahal kita tau yang kita mau. Kasusnya dia ma kasusku sama, kalo dia masalah mapala, aku teater.

Teater oooohh teater.. How I miss that days, when I could acts when I could scream, when I could say anything and be anything I want. Acted like one, ooooohh.. How I miss that feels.. Art, sastra udah di kenalin ke aku sama mama sejak aku TK. Lomba pertama baca puisi : TK, nol besar, juara 2. The first and the last aku juara 2. *suomboooooong*

Di SMP, kenalan sama Pak Untung Erha, kenalan sama temen-temen di Bengkel Sandiwara, damn. I’m feeling so alive that time. I could be anything, a bird, a man, a crook, a temptress, all of these things, I could be anyone, anything, and no one would say

“Ih.. ini siapa tadi, itu bukan temen kita, kita ga kenal dia.”

Just because I acts out a character yang ga aku banget. Kea kemarin pas pelantikan, jujur aku pengen ngakak pengen nangis juga pas habis acting jadi cewek jatuh cinta alay mampus temen-temen langsung bilang gitu. Aku tahu aku ga di kelilingi oleh orang-orang sejawat dalam hal budaya seni peran, dan itu yang bikin aku sedih tiada tara. *elaah..lebaiiii*

SMA, teater senior dari BS  = KL, Kolong Langit. Wih, aku ketemu sama orang-orang yang jauh lebih hebat lagi., dan mereka semua merupakan orang-orang paling bijak yang pernah aku temui.

Temen yang bercap “adventure” say : orang yang naklukin alam adalah orang-orang bijak. 0_o ga gitu sih kata-katanya, kerenan dikit dr pda itu, Cuma ya intinya itu. Aku setuju sama dia. Tapi dia bukan anak teater.. hahaha. –emang lo anak teater meg ?—jadi dia gatau kalo orang-orang teater yang tampangnya kucel-kucel ini, juga bijak. Bijak banget malah. *hayoo yang anak teater terus baca ini meringis-meringis, awas.. Semakin meringis semakin ndak bijak.. seorang bijak tidak akan mengaku bijak. Orang lain yang mengakui. Hehe.*

Eh, bentar. Balik ke awal. Ya itu intinya tadi itu. Sakit banget rasanya kea gini., ga bisa ngelanjutin sesuatu yang kita cintai karena kewajiban yang lebih besar itu sakit-banget-seriusan-sakit. Kalo temen gue yg ini alhamdulilah yee, ada kenalan mapala bisa main bareng gitu. (walopun smehow aku yakin dia pasti ada rasa ga enak). Nah ambo ? Ambo pgen banget kenalan sama anak teta (teater tangga), tapi.. hhh.. ya itu.. pgen ikut latian bareng, tapi g pgen terikat. Ngerti? HTS gitu deh.. *halah*. Kan kasian TETAnya, jadi kea.. kemanfaatin gitu.. atau ga ? Yah..sudahlah.. aku ikhlaskan.. biarlah ketika aku pulang nanti, kembali ke tanah kelahiran aku sekali lagi akan bermain peran bersama kawan-kawan bengkel sandiwara dan Kolong Langit. Apapun yang akan terjadi, toh kami satu keluarga. Selamanya.

Regards buat guru besar, ayah angkat (halah), dan keluarga tersayang :

“Untung Erha, Mb’Shanti, sama Nesia, hehee. Namanya keren deh, Indonesia.”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s